STKIP PGRI Pacitan gelar Seminar Nasional Dalam Jaringan Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat tahun 2021

STKIP PGRI Pacitan gelar Seminar Nasional Dalam Jaringan Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat tahun 2021

Seminar nasional dalam jaringan (Semnas Daring) kembali digelar LPPM STKIP PGRI Pacitan. Forum ilmiah rutin tahunan ini dilaksanakan di penghujung tahun 2021 tepatnya pada hari Kamis, 30 Desember 2021. Menghadirkan guru besar dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Drs. Jaslin Ikhsan, M.App.Sc., Ph.D. dan Peneliti Pusat Riset Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/Badan Riset Inovasi Nasional Anggi Afriansyah M.Si., serta keynote speaker yaitu ketua STKIP PGRI Pacitan Dr. Mukodi, M.S.I. Adapun peserta yang terdaftar mengikuti kegiatan ini sejumlah 311 pendaftar, dengan 49 peserta presenter/pemakalah pendamping yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa, Guru dan Peserta Umum dari berbagai Instansi.

Ketua panitia Sugiyono, M.Pd. memaparkan bahwa tema seminar kali ini adalah “Urgensi Inovasi Pendidikan Pasca Pandemi untuk Ketahanan Bangsa”. Tema tersebut merupakan upaya untuk mengurai problematika akibat dampak pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19). Pandemi Covid-19 menuntut penyesuaian baru di segala bidang, tidak terkecuali bidang pendidikan. Di bidang pendidikan tuntutan untuk beradaptasi tersebut di sisi lain telah melahirkan berbagai inovasi baru. Salah satunya pembelajaran daring (dalam jaringan) yang menjadi kebiasaan baru dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pembelajaran daring tentunya membawa dampak positif dan negatif bagi semua elemen yang terlibat. Hal tersebut memerlukan berbagai inovasi di bidang pendidikan agar tujuan pendidikan tetap tercapai, sehingga ketahanan bangsa dapat terwujud. Seminar nasional ini diselenggarakan sebagai forum ilmiah untuk mendiskusikan pentingnya inovasi di bidang pendidikan bagi dosen, praktisi, guru, pemerhati pendidikan, dan masyarakat umum, sekaligus sebagai wadah publikasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat.

Dr. Mukodi, M.S.I. sebagai keynote speaker menyampaikan uraian terkait perlunya inovasi pendidikan di masa pandemi covid 19. Pandemi covid 19 secara tiba-tiba mengharuskan elemen pendidikan untuk mempertahankan pembelajaran secara online. Kondisi saat ini mendesak untuk melakukan adaptasi dan inovasi terkait pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran. Inovasi pendidikan sangat penting dan harus dilakukan. Sebab, pendidikan pada hakikatnya membutuhkan konteks, dan pandemi covid 19 sejatinya adalah konteks itu sendiri . Beliau juga menyampaikan bahwa kedepan teknologi mampu mengambil alih pembelajaran di lembaga pendidikan. Selain itu, Revolusi industri 4.0, ditandai oleh jejaring (networking) & kerjasama (teamwork). Jaringan semakin diperlukan, karena setiap manusia tak lagi hidup terpisah-pisah, tetapi berhubungan satu dengan yang lainnya. Di akhir, beliau menekankan bahwa inovasi pendidikan menjadi keniscayaan untuk diwujudkan, kapan pun dan dimana pun. Pendidikan pasca pendemi covid-19 menitikberatkan pada pola hybrid/blended (pembelajaran campuran) antara tatap muka & online, tegasnya.

Seminar inti sesi pertama dengan narasumber Anggi Afriansyah M.Si. memaparkan materi dengan judul “Tantangan pencerdasan anak bangsa dan wajah pendidikan yang berubah: Perjalanan pendidikan di Indonesia selama masa pandemi. Dilanjutkan sesi kedua oleh Prof. Drs. Jaslin Ikhsan, M.App.Sc., Ph.D. dengan judul “ICT-Based Learning inovasi pembelajaran di era VUCA Seamless Education”. Sesi seminar utama diakhiri diskusi interaktif peserta dengan narasumber yang berlangsung menarik. Selanjutnya sesi seminar pararel dibagi menjadi 3 room dengan jumlah 49 judul artikel luaran penetian dan pengabdian kepada masyarakat. (Sgy).

Organisasi Wanita Kampus Pendidik (OWKP) STKIP PGRI Pacitan Gelar Peringatan  Hari Ibu ke-93

Organisasi Wanita Kampus Pendidik (OWKP) STKIP PGRI Pacitan Gelar Peringatan Hari Ibu ke-93

Minggu (12/12/2021) bertempat di halaman dan aula kampus, Organisasi Wanita Kampus Pendidik (OWKP) STKIP PGRI Pacitan menggelar peringatan hari Ibu. Serangkaian kegiatan digelar oleh ibu-ibu dengan antusias. Kegiatan diawali dengan lomba foto keluarga dan menulis surat kepada ibu secara daring, senam bersama, edukasi pencegahan kanker payudara dan kanker serviks serta permainan.

Panitia kegiatan mengemas peringatan hari Ibu ke-93 ini dengan memadukan antara unjuk keterampilan berekspresi melalui lomba keterampilan menulis surat dan fotografi, peningkatan pengetahuan dan kesadararan pentingnya kesehatan reproduksi melalui edukasi dari bidan Ari Lindariati, A.md. Keb., pemeliharaan kebugaran melalui senam, serta uji kekompakan melalui berbagai permainan.

Lomba menulis surat kepada ibu dan lomba fotografi dilakukan secara daring dan pemenang diumumkan saat kegiatan puncak dilakukan. Pemenang lomba foto keluarga diraih oleh keluarga Rina Merdekawati, keluarga Indah Puspitasari dan keluarga Sri Pamungkas. Sementara, untuk lomba menulis surat kepada ibu dimenangkan oleh Welly Novitasari, Urip Tisngati, dan Trinil Sulistyowati.

Permainan untuk uji ketangkasan dan kekompakan ibu-ibu dilakukan dengan semangat. Keterlibatan alumni dan mahasiswa dalam memandu jalannya lomba menambah kemeriahan acara.

Ketua OWKP, Imroatus Solikah menuturkan, “Kegiatan peringatan hari Ibu ini merupakan kegiatan perdana pascapernyataan pandemi Covid-19. Sehingga antusias anggota untuk bersilaturahmi dan meningkatkan imun dalam momentum hari Ibu diharapkan bermanfaat untuk ibu-ibu OWKP. Tentu, ibu-ibu yang datang dalam kegiatan harus dalam kondisi yang sehat.”

Kegiatan ditutup dengan penyerahan hadiah lomba, baik lomba yang dilakukan secara daring maupun lomba dalam bentuk permainan serta foto bersama. (Humas STKIP PGRI Pacitan)

Sejumlah Dua Puluh Dua Ormawa STKIP PGRI Pacitan Resmi dilantik olah Ketua

Sejumlah Dua Puluh Dua Ormawa STKIP PGRI Pacitan Resmi dilantik olah Ketua

Pelantikan pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia Pacitan (STKIP PGRI Pacitan) digelar pada senin (25/10). Kegiatan ini berlangsung di gedung A Aula STKIP PGRI Pacitan dan disiarkan secara virtual via platform zoom meeting.

Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB diikuti oleh seluruh perwakilan dari masing-masing ormawa, namun hanya perwakilan ketua ormawa saja yang diizinkan hadir secara luring pada pelantikan kali ini. Hal ini mengingat kapasitas gedung yang bisa digunakan hanya sekitar 50% saja karena masih dalam kondisi pandemi. Sejumlah 140 Mahasiswa lainnya mengikuti acara pelantikan pengurus ormawa periode 2021/ 2022 secara daring. Dalam kesempatan ini juga dihadiri jajaran pimpinan dan juga seluruh ketua program studi. Mulyadi, M.P.d. selaku Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan membacakan surat keputusan ketua terkait pelantikan ormawa tahun ini.

Sejumlah 22 ormawa yang dilantik hari ini adalah sebagai berikut:
1. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dengan Presiden Yusuf Mukib,
2. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Ketua Ipung Lelono Husodo,
3. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Ketua Nidia Vega Riyani,
4. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Ketua Riska Fitiana,
5. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Ketua Eko Saputro,
6. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Ketua Wahyu Mitasari,
7. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Ketua Kurnia Yusuf Efendi,
8. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Informatika Ketua Syaviul Anan,
9. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Ketua Alfan Syaifut Aminullah,
10. Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka KDR Putra Ketua Irfan Ardiansyah, dan KDR Putri Ketua Reza Aprillia,
11. Unit Kegiatan Mahasiswa Karawitan Ketua Afni Azizah,
12. Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Ketua Sigit Prasetyo,
13. Unit Kegiatan Mahasiswa Forkisma Ketua Dany Ardian Saputra,
14. Unit Kegiatan Mahasiswa Resimen Mahasiswa Ketua Imam Muanas,
15. Unit Kegiatan Mahasiswa Pencak Silat Ketua Rizal Adhitya,
16. Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Volly Ketua Sunardi,
17. Unit Kegiatan Mahasiswa Futsal Ketua Muhammad Fahrul Nizam,
18. Unit Kegiatan Mahasiswa Petanque,
19. Unit Kegiatan Mahasiswa Reog Ketua Fian Wahyu Pamungkas,
20. Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Ketua Suci Fitrianingsih,
21. Unit Kegiatan Mahasiswa Mapala Ketua Albi Iqsal Pradana, dan
22. Unit Kegiatan Mahasiswa Kependudukan Ketua Satrio Budi Luhur.

Dr. Mukodi. M.S.I. selalu ketua STKIP PGRI Pacitan dalam sambutannya menyampaikan bahwasanya organisasi kemahasiswaan bukan semata-mata untuk menjadi pelengkap saja. Akan tetapi kami memohon dengan sangat agar kewenangan dan tanggung jawab kalian sebagai presiden BEM, Ketua DPM, HMP, dan UKM benar-benar dilaksanakan dengan baik. Bagaimana menggerakkan mahasiswa yang lain agar bisa melatih mentalitas mereka, bagaimana berkomunikasi yang baik dan lain sebagainya. Karena sebagai pionir masing-masing ormawa itu tidaklah mudah, butuh perjuangan dan juga pengorbanan.

“Kami berpesan dengan adanya momentum ini benar-benar menjadi pemantik semangat, bukan hanya berhenti sampai disini. Bangsa ini butuh kontribusi dari saudara, tidak hanya berkoar hidup mahasiswa dengan lantang akan tetapi bagaimana hentakan saudara itu benar-benar menjadi satu hal yang luar biasa. Saudara memiliki potensi yang besar, lampaui diri saudara, hidup di kota kecil Pacitan akan tetapi pikirannya harus go internasional dengan adanya kemudahan dunia serba digital ini, mari bersama-sama kita selangkah lebih maju” Pungkas Dr. Mukodi, M.S.I.

Reporter: Sofyan Hadi

Gelar Studium Generale and Visiting Professor, STKIP PGRI Pacitan Hadirkan Ketua Umum PB PGRI dan Akademisi King Fahd University Arab Saudi

Gelar Studium Generale and Visiting Professor, STKIP PGRI Pacitan Hadirkan Ketua Umum PB PGRI dan Akademisi King Fahd University Arab Saudi

Studium generale menyambut tahun akademik baru dirangkaikan dengan visiting professor digelar bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila pada Jum’at, 1 Oktober 2021. Kegiatan ini menghadirkan secara virtual Ketua Umum PGRI Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. dan Prof. Sumanto Al Qurtubi, PhD. (Akademisi King Fadz University Arab Saudi). Dengan menggunakan platform zoom meeting dan ditayangkan secara live di youtube diikuti oleh segenap sivitas akademika STKIP PGRI Pacitan.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua STKIP PGRI Pacitan Dr. Mukodi, M.S.I., dalam sabutannya beliau menyampaikan kehadiran ketua umum PGRI sebagai spirit bagi segenap sivitas akademika STKIP PGRI Pacitan dalam menyambut Era Merdeka Belajar Kampus Merdeka ditengah dinamika yang ada serta dalam menghadapi era post truth. Tentu banyak peluang dan tantangan yang harus dihadapi pada era post truth yang perlu dipahami dengan baik yang akan disampaikan oleh Ketua Umum PGRI. Beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Sumanto Al Qurtubi, PhD., berkenan hadir secara virtual dari Arab Saudi, yang merupakan sosiolog, antropolog, dan budayawan yang berkaliber internasional. Tidak lupa beliau juga menyampaikan permohonan maklum kepada segenap hadirin jika selama kegiatan berlangsung terdapat hal yang kurang berkenan.

Kegiatan inti sesi pertama studium generale dimoderatori oleh Dr. Sri Pamungkas, M.Hum. dengan narasumber Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. Adapun tema yang disampaikan adalah “Peluang dan tantangan pendidikan Indonesia di Era Post Truth dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Perempuan yang juga sebagai Dosen di Universitas Negeri Jakarta tersebut, memaparkan secara gamblang terkait tantangan dan peluang era post truth dalam kaitanya dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Beliau menegaskan bahwa saat ini kita menjadi warga masyarakat global (global village), dimanapun kita berada kita terkoneksi secara langsung dengan masyarakat di berbagai belahan dunia baik amerika, eropa, dll. Kecepatan informasi di segala bidang saat ini sering mendahului pranata sosial, hukum, moral dapat berdampak positif dan negatif. Sering kali kita sulit membedakan mana kebenaran dan mana yang tidak benar. Sebagai kaum intelektual kita harus memegang teguh moral karena dasar kebenaran sesungguhnya adalah moral mind. Selain itu kebenaran akademik/kebenaran ilmiah harus dijunjung tinggi untuk menegakkan kebenaran yang hakiki. Tantangan dunia pendidikan saat ini bagaimana pendidikan karakter menjadi benteng post truth untuk mempertahankan agar tetap pada riil truth. Sedangkan tantangan pada pendidikan tinggi bagaimana membuktikan karya yang diciptakan adalah karya yang original bukan membajak karya orang lain. Dan harus dapat memastikan eksplorasi ilmu pengetahuan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah.

Beliau memberikan tips dalam menghadapi era post truth yakni “kontrol diri, orang tua, lembaga, dan kontrol melalui kebijakan diperlukan dalam menghadapi kompleksitas problematika agar tetap selamat. Pembelajaran harus relate dengan kondisi zaman dan kebutuhan pasar, mengajar sesuai dengan tantangan kedepan. Membuat skenario planing kebijakan pendidikan kedepan yang sesui dengan kebutuhan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Prinsip bertanya, membuktikan, data, penalaran, penelusuran, kebenaran agama yang diyakini, serta etos kerja menjadi kunci. Memanfaatkan keberkahan melimpahnya informasi, dan tetap menjaga daya nalar, kritis, serta pembuktian kebenaran agar selamat dan sukses mengarungi gelombang perubahan dan dapat merengkuh dunia”, tandasnya

Sesi kedua visiting professor dipandu oleh Dr. M. Fashihullisan, M.Pd. dengan narasumber langsung dari Arab Saudi Prof. Sumanto Al Qurtubi, PhD., dengan tema “Efektivitas kekuatan budaya dalam menangkal radikalisme di era post truth (Studi Komparasi di Indonesia dan Jazirah Arab). Beliau mengawali pemaparan dengan menjelaskan era post truth dari masa perang dunia hingga kini. Adapun pendekatan dalam menanggulangi radikalisme dan intoleransi di antaranya; pendekatan keamanan (hard approach), pendekatan hukum (legal approach), pendekatan politik melalui otoritas kekuasaan, pendekatan agama, pendekatan ekonomi, pendekatan budaya. Pendekatan budaya dijabarkan lagi melalui pendidikan/edukasi, local custom (kearifan lokal, adat, budaya), internet melalui sosial media, berbagai tulisan baik akademik/non akademik (edukasi publik, tulisan singkat, meme positif, dll), pendekatan olah raga (sport approach), serta melalui pendekatan organisasi kemahasiswaaan di kampus. Efektifitas pendekatan tergantung pada asesmen sebelum pendekatan digunakan agar tepat sasaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangkal radikalisme diantaranay; tingkat ekstrimisme radikalisme, klasifikasi militansi aktor radikalisme, tingkat literasi masyarakat, serta budaya masyarakat.

Di akhir sesi pria yang berpengalaman mengajar di Eropa dan Amerika itu, menyampaikan harapan besar kepada intitusi pendidikan tinggi seperti STKIP PGRI Pacitan menjadi instrumen penangkal gerakan-gerakan intoleran dan anti kebhinekaan yang menyebar seperti virus di mana-mana. Agar dapat mengajarkan hal-hal yang pro kebhinekaan, pro terhadap pluralitas agama, etnis, dan lain-lain. Kepada para mahasiswa beliau juga berpesan “kalian harus selalu berhati-hati dalam mengikuti berbagai sosial media, jangan mudah terprofokasi terbawa hoax, sortir informasi, ikuti mereka yang pro toleransi agar kelak tidak menyesal. Harus selalu waspada cermat tidak mudah terbawa arus agar kelak benar-benar menjadi guru yang toleran, digugu, dan ditiru”, pungkasnya.